Yang Tersisa di Meja
Sebuah gelas, cincin air,
dan cahaya sore yang miring.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya sisa hari
yang belum sempat dibereskan.
Aku duduk di depannya
seperti menonton akhir film
yang tidak pernah kumengerti.
Ada kalanya kehilangan
tidak datang sebagai badai.
Ia datang sebagai debu
yang pelan-pelan
menutupi semua benda
yang masih kita cintai.
Dan ketika aku akhirnya
menyeka meja itu,
aku sadar
yang paling sulit dibersihkan
bukan cincin airnya,
melainkan tempat
di mana gelasmu biasa berdiri.